Pemkot Bukittinggi Dukung Penuh Program Japuik Adat untuk Perantau Kurai di Riau

BUKITTINGGI, Suryapublik com. Pemerintah Kota Bukittinggi menyatakan dukungan penuh terhadap program silaturahmi dan pelestarian adat Minangkabau yang digagas oleh perantau Kurai yang bermukim di Provinsi Riau, khususnya dari Duri, Dumai, Pekanbaru, dan sekitarnya. Dukungan tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Rumah Dinas Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi pada Sabtu (20/7/2025).

Pertemuan ini mempertemukan Ketua IKKLJ Mewakili Duri, Feri Harmen, ST., Rajo Alam ST., MBA; Penasehat IKKLJ Dumai diwakili Inyiak H. Yusri Malin Parpatiah; serta Penasehat IKKP mewakili Pekanbaru, H. Zulhaq Kari Mangkudun, dengan Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi, Rismal Hadi, S.STP, M.Si. Sekda turut didampingi tokoh masyarakat dan tokoh adat Kurai, Azmi ST Marajo, serta Inyiak Datuak Rajo Malintang mewakili Inyiak Datuak Palang Gagah Parik Nagari Kurai.

Program yang direncanakan bertajuk “Japuik Adat” ini akan digelar pada 5–7 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan adat Kurai melalui pencerahan dari para niniak mamak dan bundo kanduang kepada para perantau Kurai, sekaligus menjadi ajang wisata pulang kampung dan mempererat silaturahmi dengan dunsanak dan anak kemenakan.

Wali Kota Bukittinggi, Haji Muhammad Ramlan Nurmatias ,S.H
Datuak Nan Basa melalui Sekda, menyampaikan apresiasi atas niat mulia ini.Kami menyambut hangat rencana ini. Ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga langkah bermakna dalam melestarikan adat istiadat Minangkabau, serta mempererat jalinan emosional antara ranah dan rantau,” ujar Sekda Rismal Hadi.

Dalam suasana yang penuh kehangatan dan semangat budaya, disampaikan pula pantun adat nan menggugah sanubari, sebagai cermin dari fenomena kehidupan perantau Kurai

Pantun Adat: Fenomena Perantau Kurai

Mudo matah tamaik sekolah pai marantau,
Mencarikan pungguang nan indak basawok, paruik nan indak barisi,
Saparo umua habih dirantau, barumah tangga dan baranak pinak di rantau,
Tapi masih mengaku Urang Kurai — tapi kok batanyo *ANAK CUCU* apo Kurai tu nyiak….? kalam nan kadisabuik.

Baitu pulo nan lahir dan gadang di parantauan:
“Kami iko anak Minas, karano lahir dan gadang di Minas,”Kiktinggi tu kampuang Papa jo Mama kecek mereka…

Ungkapan ini menggambarkan kerinduan dan semangat perantau untuk tetap terhubung dengan akar budaya dan kampung halaman. Karena itu, melalui kegiatan Japuik Adat, mereka berharap bisa paubek rindu dan menapak tilas asal-usul, agar anak cucu kelak tak kehilangan jejak tambo kampuang.

Bundo Kanduang Linda Zubir pun menyatakan kesiapan dan komitmennya untuk menyukseskan acara ini yang akan melibatkan perantau Kurai dari seluruh wilayah Riau. Ia menambahkan:

Paparan dari Inyiak Mamak Kurai nantinya akan menjadi isi dan ruh dari wisata adaik, diselingi raun-raun keliling Bukittinggi dan ranah Minang.”

Pertemuan ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah, tokoh adat, dan para perantau dalam menjaga identitas budaya dan mempererat hubungan ranah dengan rantau.

(Ria)