Inovasi Pembelajaran Kebencanaan Antar Dua Pendidik TK Mutiara Bunda Kampar Raih Penghargaan GTK Riau 2026

DUMAI,SURYAPUBLIK.COM-Kreativitas dalam dunia pendidikan anak usia dini kembali membuahkan prestasi. Dua tenaga pendidik TK Mutiara Bunda, Kabupaten Kampar, berhasil mengukir pencapaian membanggakan dengan meraih penghargaan Terbaik II pada ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Riau Tahun 2026. Yaitu Terbaik II pada Program GTK Dedikatif kategori Guru TK dan Terbaik II pada Program GTK Transformatif kategori Guru TK.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan Apresiasi GTK Provinsi Riau 2026 yang digelar di Hotel The Zuri Dumai, Rabu (4/11/2026).

Dua pendidik yang berhasil membawa pulang penghargaan tersebut yakni Rislah Arini, M.Pd.,Gr dan Ratna Juita, S.Pd. Keduanya meraih posisi Terbaik II pada kategori masing-masing, sekaligus memperoleh apresiasi berupa uang pembinaan sebesar Rp3 juta.

Salah satu karya inovatif yang menjadi perhatian adalah Sistem Inovasi Banjir Ramah Anak (SI-BARA). Program ini merupakan media pembelajaran yang mengenalkan pengetahuan kebencanaan, khususnya kesiapsiagaan menghadapi banjir, kepada anak-anak sejak usia dini.

Melalui konsep belajar sambil bermain, SI-BARA membantu anak memahami tindakan keselamatan ketika menghadapi banjir. Pendekatan tersebut membuat materi kebencanaan lebih mudah dipahami, sekaligus menanamkan kesadaran pentingnya menjaga keselamatan diri.

Inovasi ini memperlihatkan bahwa pembelajaran di tingkat PAUD dapat dikembangkan secara kreatif dengan menghadirkan materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan kebutuhan anak.

Selain SI-BARA, inovasi pembelajaran lainnya yang turut mengantarkan prestasi guru TK Mutiara Bunda pada Apresiasi GTK Transformatif adalah BATUAH, akronim dari Buku Cerita, Analisis Tantangan, Tata Jadwal, Uji Proyek, Amalkan, dan Hayati melalui Refleksi.

BATUAH merupakan inovasi pembelajaran berbasis cerita dan proyek melalui kegiatan Camping Day yang dirancang untuk menstimulasi penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). Berbeda dengan pembelajaran yang hanya mengenalkan kebiasaan baik secara lisan atau melalui penjelasan, inovasi ini memberikan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkannya secara langsung melalui pengalaman nyata.

Pelaksanaan pembelajaran BATUAH berlangsung selama lima hari dengan mengadaptasi model Project Based Learning (PjBL) yang dikembangkan Lucas (2007). Melalui tahapan kegiatan yang terstruktur, anak diajak mengenal cerita, menganalisis tantangan, menyusun jadwal, melaksanakan uji proyek, mengamalkan kebiasaan baik, serta menghayati pengalaman melalui refleksi.

Puncak kegiatan dikemas dalam program Camping Day yang menjadi ruang bagi anak untuk menerapkan berbagai kebiasaan positif dalam suasana belajar yang menyenangkan dan kontekstual.

Melalui inovasi BATUAH, diharapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat tidak sekadar menjadi pengetahuan yang diketahui anak, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang dipahami, dialami, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua inovasi tersebut menunjukkan pendekatan pembelajaran yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan pendidikan anak usia dini yang bermakna. SI-BARA menanamkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sedangkan BATUAH mendorong pembentukan karakter melalui pengalaman belajar berbasis cerita dan proyek.

Kepala TK Mutiara Bunda, Hj. Agusnafida, S.Pd.AUD., M.M., menyambut bahagia capaian yang diraih kedua tenaga pendidiknya. Ia menilai penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi, kreativitas, dan kesungguhan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.

Menurutnya, keberhasilan tahun ini juga menjadi kelanjutan dari prestasi lembaga tersebut. Pada 2025, TK Mutiara Bunda sebelumnya berhasil meraih Juara I pada kategori pengelola PAUD dalam ajang serupa.

“Alhamdulillah, tahun ini dua kategori yang diikuti guru TK Mutiara Bunda masing-masing berhasil meraih Terbaik II. Harapan kami, pada tahun berikutnya para guru kembali diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini,” ungkap Hj. Agusnafida.

Ia juga berharap pencapaian tersebut dapat menjadi penyemangat bagi seluruh tenaga pendidik untuk terus mengembangkan potensi, memperkaya metode pembelajaran, serta melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

Sebagai lembaga pendidikan yang berdiri sejak 2009, TK Mutiara Bunda kini melayani sekitar 150 peserta didik dengan dukungan kurang lebih 30 tenaga pendidik. Layanan pendidikan yang dikelola mencakup Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Taman Penitipan Anak (TPA).

Keberhasilan dua guru tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dan kreativitas pendidik memiliki kontribusi besar dalam membangun pendidikan anak usia dini yang berkualitas.

Prestasi ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar TK Mutiara Bunda, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para guru di Provinsi Riau untuk terus berkarya dan memberikan pendidikan terbaik bagi generasi penerus bangsa.

Guru Hebat, Indonesia Kuat.

(Ria)